Kamis, 22 Desember 2011

Notaris, oh....Notaris

Hadeeeuuhh...

Susah ternyata ya untuk tumbuh dewasa dan berkembang lalu memahami hal-hal baru yang ada di dunia ini. Dari bayi yang polos, yang ga tau apa-apa. Lalu tumbuh menjadi balita lucu yang perlahan mengenal mainan. Dan tumbuh lagi jadi bocah lugu tapi sudah pintar pilih lembaran merah daripada yang biru. Kemudian tumbuh lagi menjadi remaja tanggung yang mulai memahami cinta monyet. Dan lalu tumbuh lagi menjadi remaja sok dewasa yang mengenal mantan, jomblo, galau dan sebangsanya. Dan lalu kemudian tumbuh lagi menjadi pribadi matang yang bisa bekerja mandiri. Dan lalu kemudian setelahnya tumbuh lagi hingga saat ini aku harus berurusan dengan...AKTA JUAL BELI TANAH!!

*hening...
*hela nafas...

Alhamdulillaah. Alhamdulillaah. Dan Alhamdulillaah. Segala puji bagi Tuhan Sang Pemberi Nyawa di raga yang sempurna ini. Setelah berhasil memahami satu demi satu pengetahuan penting, Engkau memberikan pengetahuan baru yang harus aku pelajari lagi. Sungguh Engkau tidak pelit, Tuhan. Tidak seperti adik kelasku dulu di pondok yang bernama XXX (nama disamarkan karena lupa). Sungguh tega dia melihat kakak kelasnya yang tampan ini kelaparan di depan rayon. Duduk meringkuk. Kedinginan. Bibir pecah-pecah. Kulit gatal dan kering. Mata berkunang-kunang. Dan rambut penuh ketombe (Hanya hiperbol. Jangan takut buat masuk pondok ya!).

"Heh, kamu ada Indomie ga di lemari?", tanyaku saat itu. "Waduh..mahfi ana, yal'ah. Kholas yantahi. Hadza ana faqot urid abhas-abhas fulus receh. Man ya'rif maujud alladzi jatuh di tanah (Waduh..ga ada saya, kak. Sudah habis. Ini saya saja mau cari-cari uang receh. Siapa tahu ada yang jatuh di tanah", jelasnya kepadaku.

Ebuseeett...!! Nih adik kelas ternyata lebih menderita daripada aku. Tabahkan hatimu, dik. Berjuanglah mencari recehan hingga kelak kau bisa bayar SPPmu.

Tapi sejatinya aku sudah tau dia berbohog. Aku paham betul seberapa tingkat kemampuan orang tua-nya. Didukung dengan fakta bahwa kemarin saat dijenguk, dia dapat satu kardus Indomie baru. Lengkap dengan lakban beningnya dan label harga yang masih melekat. Ah...dirimu memang pelit, dik.

*hela nafas...


Kita kembali ke masalah Akta Jual Beli yang jadi berkah buat aku.

Setelah satu tahun lebih sedikit aku bekerja, segala yang aku hasilkan ternyata sudah bisa diinvestasi dalam bentuk tanah dan bangunan. Maaf, bukan segala. Maksut aku sebagian. Karena sebagian lagi ditambah dari rekening papa. Yogjakarta, lokasi yang aku pilih. Sebenarnya di Surabaya pun baik. Tapi dengan pemikiran bahwa suatu saat butuh berlibur yang hemat dan nyaman, maka diputuskan untuk mencari tanah di luar Surabaya. Lagipula, harga tanah di kota besar seperti Surabaya jauh lebih mahal. Selisihnya bisa 5x lebih mahal dengan Yogjakarta. Itu dengan luas tanah yang sama. Tanpa memperhatikan letak strategis atau tidaknya tanah tersebut.

Setelah memantapkan diri dan niat, mama berangkat ke Yogjakarta. Dibantu kawan kuliahnya dulu, mama bisa dengan cepat menentukan pilihan. Singkat cerita, dimulailah tahapan penting dalam hal jual-beli tanah : pembuatan AJB (Akta Jual-Beli) Tanah.

Namanya Ibu Indah. Atau lebih enak dipanggil, mbak Indah. Umurnya masih 28 tahun. Kerja nebeng di kantor PPAT punya bapaknya. Kebetulan (ini sungguh kebetulan) urusan AJB aku ini mbak Indah yang tangani. Namanya juga masih katro masalah AJB, aku yang waktu itu lagi di tengah laut cuek ajah bilang ke mama kalau mama ajah yang urus semuanya. Aku ga bisa ninggalin kerjaan. Tapi begitu mama bilang nanti kalau yang urus semua mama, sertifikat yang keluar nanti juga atas nama mama, aku langsung berubah haluan. Dari tengah laut jam 1 dini hari, aku buru-buru nyembah kapten buat mau anter aku ke darat. Itu pun setelah aku ngerayu dengan rayuan transfer pulsa antar provider.

Paginya langsung meluncur ke Yogjakarta. Langsung ketemu mama. Dan langsung ke kantornya mbak Indah. Alamak..begitu masuk ruangan dan ketemu langsung sama orangnya, hati ini langsung cenat-cenut gak-gak-gak kuat!!

"Ini pasti bidadari yang diusir Tuhan dari surga", batinku dalam hati.

Sungguh yang ada di hadapanku adalah raga yang sempurna. Sekian detik aku bengong karena takjub. Sayangnya, kalian tidak disana saat itu bersamaku. Menikmati paras ayu mbak Indah.

*hening...
*kebayang wajah mbak Indah...


"Bapak Asmaranda Farchan Hakim, benar?", kata-kata lembut itu terucap dari bibir kecilnya. "Maaf, bu. Jangan dipanggil bapak. Saya masih 23 tahun. Iya benar saya Asmaranda Farchan Hakim", jawabku sembari menerangkan kalau aku ini masih brondong. "Ohh..maaf kalau gitu. Saya kira sudah bapak-bapak. Soalnya berkumis", selorohnya sambil tertawa kecil. "Ga apa-apa lah mau mbak panggil bapak, om, mbah atau siapa pun. Yang penting aku padamu, mbak Indah!", batinku dalam hati. "Berarti yang bersangkutan anaknya ya, bu?", tanya mbak Indah ke mama aku. Mama menjawab dengan anggukan. "Baiklah kalau begitu. Saya bacakan dulu ya yang tertera di lembar ini. Mohon dikoreksi kalau ada salahnya", jelas mbak Indah. Dan lalu mbak Indah membaca segala yang ada dalam lembaran di hadapannya.

Aku mendengar. Tapi ga konsen. Karena perhatianku masih tertuju ke mata mbak Indah. Ya, matanya yang berkilau cerah seperti lampu lalu lintas di jalanan. Maksut aku cerahnya ya, bukan warnanya. Repot kalau mata mbak Indah warna merah, hijau dan kuning. Dari mata turun ke hidung. aku perhatikan hidungnya itu mulus. Mungkin semut yang jalan di hidungnya bisa kepeleset jatuh saking licinnya permukaan hidung mbak Indah. Bulu hidungnya juga rapih. Ga ada yang menjuntai keluar. Benar-benar hidung ideal. Dari hidung turun ke bawah sedikit. Aku semakin yakin kalau mbak Indah ini wanita tulen dan asli. Ga ada tanda-tanda mbak Indah berkumis atau pernah memiliki kumis. Sempurna sekali. Setelahnya turun lagi ke bibir. Ah...yang ini sangat susah aku jelaskan. Bayangkan saja bibir Selena Gomes dan Anggelina Jollie digabung jadi satu. Bibir atas punya Selena, dan bibir bawah punya Jolie. Sangat amat random. Eksotis. Eksklusif. Empiris. Edukatif. Efektif dan is-if lainnya lah. Perfecto! Aku padamu, mbak Indah.

*hening...
*kebayang wajah mbak Indah...


"Gimana mas Asmaranda, apa ada koreksinya?", mbak Indah bertanya. Membuyarkan semua anganku tadi.
"Koreksi? Anu...ga ada mbak. Sudah benar semua", jawabku terbata. "Ok. Kalau semua data sudah benar dan persyaratan sudah lengkap, sekarang tinggal membuat pernyataan tertulis dari pihak pembeli dan penjual tentang beberapa hal sebagai syarat pembuatan AJB ini", terang mbak Indah.

Ketika semua beres, berakhirlah pertemuan singkat itu. Tidak percuma aku keluar pulsa 20.000,- untuk menyogok kapten supaya mau diantar ke darat. Tidak percuma aku lari-lari mengejar kereta sewaktu berangkat dari Surabaya. Tidak percuma aku punya wajah tampan. Dunia memang indah.

*hela nafas...
*tersenyum...


Sejatinya, akta yang ditangani mbak Indah sudah keluar tanggal 20 Juli 2011 lalu. Tapi karena aku dan mama masih menikmati liburan di negeri luar, jadi papa yang ambil dan urus semuanya.

Mbak Indah oh mbak Indah..
Notaris oh notaris..
Wajahmu mengalihkan tanda tanganku ke akta-mu..





Tamat.

1 komentar: