*merinding...
*hening...
Tidak tahu mengapa, sering sekali aku lupa bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk menghirup nafas sepuas aku mau. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk dapat menikmati harta, tahta dan wanita semampu aku bisa mendapatkan ketiganya. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk lahir dari rahim seorang mama yang begitu cantik dan menyayangi aku. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan memiliki papa dan dua saudara yang kesemuanya lelaki. Sungguh, aku sering sekali lupa bahwa seluruhnya hanya satu kali kesempatan.
Aku terlahir sebagai lelaki. Bukan aku yang meminta. Bukan aku pula yang memutuskan. Tuhan yang berkehendak. Tuhan yang menugaskanku menjadi lelaki. Meski aku dapat meminta, aku juga bingung meminta lelaki atau wanita. Karena menurutku juga sama : Juga Manusia. Hanya perbedaan raga saja yang mencolok. Sifat pun juga kelak akan sama. Yang lelaki akan seperti wanita, yang wanita akan seperti lelaki. Maka tidak pantas jika aku meminta terlahir sebagai lelaki atau wanita. Karena aku tidak sanggup memberi jawaban tentang kehidupanku kelak.
*hening...
*hela nafas...
Sudah jadi santapan umum di sekitar kita, bahwa lelaki merupakan sosok tangguh. Yang di pundaknya bertengger beban besar dan berat. Yang dari rusuknya tercipta kasih sayang dan cinta. Yang dari ucapannya muncul jalan surga dan neraka. Dan masih banyak santapan lain. Namun itu semua hanya santapan. Bentuk jadi yang dihasilkan setelah diolah dengan peluh dan waktu. Itu yang tidak diketahui mereka, para penyantap. Mereka tidak mengerti, bahwa dibalik beban besar dan berat di pundaknya, lelaki juga merindukan kenyamanan dalam hidup. Merindukan keringanan semu yang bisa dinikmati. Bahwa dibalik rusuk yang hilang darinya, lelaki juga sangat rapuh meski mendapatkan kasih sayang dan cinta. Bahwa dibalik ucapan yang keluar dari mulutnya, lelaki juga mengharapkan pengampunan dari Tuhan bagi diri mereka sendiri. Semua tak tampak. Namun ketika sekitarnya tahu akan hal ini, mereka hanya tertawa. Mereka hanya mencemooh, "Lelaki macam apa kamu". Atau mungkin seperti di layar bening, "Laki kok minum rasa-rasa..". Mereka hanya bisa seperti itu.
*hela nafas...
*minum susu coklat...
(bersambung....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar