Tulisan tentang Lelaki ini bukan sebagai bentuk keluhan. Tapi tulisan ini murni lahir karena aku lelaki. Karena aku mengerti dan sedikit paham tentang apa yang lelaki rasakan dibalik besarnya tanggung jawab dan beban yang dipikul.
*hela nasfas…
Siapa selain Tuhan yang turut urun serta menghadirkan aku di dunia ini? Ya, mama dan papa. Tanpa mereka berdua, bagaimana mungkin aku menampakkan wajahku di ruang bersalin? Jangan anggap ini hal tabu yang tidak pantas dibicarakan di ruang publik. Ini penting. Dan lambat laun yang tabu pun menjadi lazim. Jadi, tenang saja. Gitu ajah kok repot.
*hening…
Kita kesampingkan dulu figur mama. Yang sekarang kita utak-atik adalah papa, Sang Lelaki. Umurnya tidak lagi kecil. Sudah 52 tahun. Beliau tidak lagi muda, namun masih menarik dan tampan. Seperti aku. Papa sudah harus pakai kacamata agar pandangannya jelas. Papa sudah tidak bisa lebih dari jam 10 malam saat bersama keluarga menonton tv di ruang santai. Papa sudah tidak lagi kuat menggendong aku dalam dekapannya. Ya, begitulah papa saat ini. Jauh sebelum aku beranjak dewasa, yang aku pahami adalah papa seorang pekerja kantoran dengan gelar sarjana hukum di belakang namanya. Ketika aku perlahan sudah pantas menerima beberapa kisah masa lalu keluarga aku, maka terdengar segala kisah tentang masa lalu papa. Tentang kisah percintaan papa. Tentang kisah pilu yang papa alami. Tentang kisah kerja keras papa. Dan masih banyak lagi. Yang aku dengar semuanya sangat amat pilu bagi aku. Semuanya. Meski kisah itu termasuk hal yang membahagiakan bagi yang lain. Tapi aku tetap merasakan pilu di dalamnya. Sungguh, semua yang papa alami bukan sesuatu yang ringan dan mudah. Seperti ini kah kodrat lelaki, Tuhan?
*hela nafas…
*hening…
Di antara teman-teman semua, ada yang pernah melihat papa atau bapak atau ayah atau daddy atau abi menangis? Silahkan jawab sendiri. Dan jawabanku : pernah. Aku pernah liat papa menangis. Saat itu si adik kecil sedang bermain sepeda roda tiganya. Aku yang diam sembari bermain tetris di teras rumah tidak menyadari kekacauan yang terjadi di luar pagar. Mendadak suara adik bergema dan menangis. Aku segera lari, di paving panas sore itu, adik jatuh dari sepedanya. Kepalanya bocor, dan aku lihat sepedanya tidak lagi beroda tiga. Tapi beroda satu! Dan itu tersisa di bagian belakang sebelah kanan. Jangan tanya bagaimana detail kejadian yang menimpa adik. Karena aku (sampai saat ini) juga tidak mengerti segala sesuatunya.
Singkatnya, adik aku bawa ke rumah sakit ditemani supir papa yang masih ada di rumah. Dengan perasaan bingung dan panik, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana saat mendengar jerit sakit adik dari koridor rumah sakit. Aku lihat papa di ujung koridor, berjalan cepat menuju aku. Dengan masih berpakaian kerja papa memeluk aku. Menanyakan keadaanku. Aku yakin papa sudah tahu kalau yang terluka itu adik, tapi papa yang menghampiri aku tetap menanyakan keadaanku. Aku yang menahan tangis sejak dari rumah, akhirnya menumpahkan air mata di pelukan papa. Meski aku tahu aku tidak mungkin disalahkan, tapi aku tetap merasa bersalah. Ini bukan kejadian kecil seperti ketika aku merebut mainan robot dari adik. Tapi ini kejadian laka lantas misterius yang jika polisi turun menangani, aku sudah pasti ditahan karena kelalaianku menyebabkan korban jiwa.
*hela nafas…
*lihat snack di atas meja…
*sabar, belum adzan maghrib…
Aku terdiam. Saat papa masuk melihat keadaan adik. Aku pun ikut masuk, didampingi mama. Dokter yang waktu itu masih sibuk berkutat dengan kepala adik, tampak tersenyum kecil. Dan berkata semua baik-baik saja ke papa yang bertanya. Aku perhatikan raut wajah adik yang merah karena menangis. Tanganku menggenggam erat tangan mama, yang lalu memberikan sentuhan lembut di kepalaku. Ya, aku ikut merasakan pedih yang adik rasakan saat jarum dan benang merapatkan kulit kepalanya yang bocor. Miris.
Mungkin papa juga tidak tahan mendengar jerit tangis adik. Papa memberikan sentuhan halus di dada adik sembari berjongkok di samping ranjang. Dan lalu, papa menangis. Papa menangis sembari kata tahan keluar dari mulu beliau. “Tahan ya, Da Eky. Tahan..”, semangat papa ke adik.
Aku terdiam. Sedih.
Sejak itu, entah berapa kali lagi aku melihat papa menangis. Tapi yang aku tahu, air mata papa bukan air mata kucing yang dijual di negeri jiran. Ah…maaf, aku keceplosan. Kalau yang itu jenis minuman. Maksut aku, air mata papa bukan air mata buaya. Papa menangis karena cinta yang begitu besar terhadap keluarganya. Tangisan kasih sayang.
*hening…
*hela nafas…
Jauh di dalam hatimu, coba renungkan satu hal tentang apa alasan sebenarnya dari sebuah tangisan lelaki.
(bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar