Kamis, 22 Desember 2011

Kesimpulan Sesat

Aku hampir lupa kalau sebenarnya aku ini lahir di Indonesia. Dulu waktu di rahim mama, aku sempat berdo'a dan meminta kepada Tuhan. "Ya Tuhan bisakah aku lahir di Amerika? Aku kepengen jadi artis yang nanti bisa jadian sama Selena Gomes..", do'aku kepada Tuhan. Lalu samar-samar aku mendengar lantunan tembang jawa dari luar rahim.
"Yen ing Tawang ono lintang..."
Astaga, di luar sana bukan Amerika! Ini kesalahan besar! Aku pasti orok yang tertukar! Omegot! OMG! Ooouucchh...!! Auuucchh..!! Uooowwhh...!!

*histeris
*hening...


Tapi nasi sudah menjadi dedak. Aku pun merelakan Selena yang saat ini bersanding dengan Justin. Setiap kali ada beritannya di layar tv, hatiku bergetar. Aku yakin disana pun hati Selena ikut bergetar. Ini bukti bahwa seharusnya aku yang bersama Selena. Bukan Justin!

*emosi...
*bakar foto Justin...


Sudah lah. Saat ini aku sudah bisa menerima segalanya. Toh biarpun aku ga jadi sama Selena, wajahku tetap tampan. Suaraku juga ok. Cuma sayang kulitku ajah yang berbanding terbalik sama Justin. Ga apa-apa, cuma kulit ini.

Kenyataan bahwa aku lahir di negeri impian Indonesia ini, banyak memberi manfaat dan pelajaran penting bagi aku. Mungkin orang sedikit sekali yang tahu bahwa negeri impian Indonesia ini, begitu banyak tersimpan berjuta kekayaan yang tak kasat mata. Terbukti dengan munculnya krim pencerah wajah yang dihasilkan dari bawah negeri impian Indonesia ini. Lokasinya di Sidoarjo sana. Itu juga ga sengaja nemunya. Dan krim tersebut tidak akan habis sampai 10 tahun ke depan. Hebat, kan?! Negeri impian Indonesia ini sangat kaya!

*hening...


Terlepas dari semua penyesalanku, aku masih tetap bersyukur. Sejak lahir aku sudah dibekali ilmu pengetahuan dasar. Dimulai dari pelajaran menghitung dari sang juru lahir. Aku masih ingat dulu waktu mama mau ngeluarin aku, si juru lahir dengan suara lantang membentak kepadaku. "Ayo nak, sedikit lagi. 1.....2.....3...dorong bu!". Dari kata-kata juru lahir aku bisa ambil kesimpulan : Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan aku di dunia. Hanya butuh hitungan 1...2...3.

Itu pelajaran pertamanya. Yang selanjutnya ketika aku sudah di rumah. Teman-teman mama datang buat liatin wajah eksotis aku. Mereka semua memuji ketampanan yang terlanjur nempel di wajah aku. "Waduh ini baby-nya lucu banget. Mirip mamanya". Dari kata-kata tante itu aku bisa ambil kesimpulan : Tidak semua laki-laki itu ganteng. Buktinya aku dibilang mirip mama. Padahal mama kan cantik.

Lalu ketika aku mulai merayakan lebaran pertama aku. Setelah sungkem dan cipika-cipiki sama nenek, aku pun menerima 5 lembar pecahan seribu dari nenek. Begitu gembiranya aku saat itu. Namun, kegembiraanku luntur seketika. Sesaat setelah aku sungkem, aku lihat kakak sepupu aku diberi 5 lembar tapi kali ini pecahan sepuluh ribu. Aku pun terdiam. Memandang nenek dengan tajam. "Ini buat kamu. Jatahnya lebih banyak dari Othy, kan soalnya sudah besar..". Dari kata-kata nenek aku bisa ambil kesimpulan : jadi anak kecil itu ga enak. Jatahnya lebih sedikit.

Salah satu pelajaran penting lainnya terjadi saat aku di pondok dulu. Di Solo, ada angkutan kota. Labelnya 01A. Tiap kali waktu pesiar (keluar komplek buat jalan-jalan), sudah sewajarnya naik angkutan itu. Karena memang angkutan itu sejalan dengan tempat yang biasa anak-anak pondok tuju.

Siang itu setelah sholat Jum'at, aku dan kawan-kawan lain bergegas untuk memanfaatkan waktu pesiar yang hanya 5 jam. Tujuan kami sudah jelas : Matahari Singosayen (nama disamarkan agar tidak terjadi penyelidikan lebih lanjut). Di pinggir jalan besar itu, kami menunggu 01A. Begitu teriknya sinar matahari saat itu. Aku masih ingat betul, peluh menetes deras dari kening dan lubang hidungku. Sangat deras mengucur. Cur...cur...currr...

*ambil tissue...
*lap keringat yang menetes...


Akhirnya 01A pun muncul di ujung sana. Dengan asap mengepul hitam dan membumbung tinggi dari ujung knalpotnya. Tumpangan dengan warna kuning telur basi itu berjalan menuju arah kami. Ini sudah naluri mungkin, semua sopir 01A sudah tahu harus memilih kami sebagai penumpang. Gerombolan anak-anak culun dengan model sisiran belah pinggir. Baju kemeja dimasukkan. Celana kain halus dengan lipatan di bawahnya. Sepatu sandal Nyeckerman. Dan, membawa tas ransel yang sejatinya itu adalah tas sekolah sehari-hari. Omegottt...sungguh culunnya aku di masa itu.

*hela nafas...


"Ayo masuk, mas! Bangku panjang wong enem yo. Geser sithik mbak'e ayo..", seru sang sopir.
Dan aku pun masuk. Duduk di depan.

Ini mungkin juga naluri, sang sopir menatapku sesaat. Lalu tersenyum. Aku yakin dia kagum dengan ketampananku. Sudah jelas dan pasti. Semua orang yang pertama kali melihatku juga bereaksi seperti sopir ini. "Jek model ta mas mlaku-mlaku gowo tas ransel ngono? Koyok arep njaluk sumbangan ae!", sang sopir membuka pembicaraan.

Aku sontak kaget dengan kata-kata itu. Hasyu, aku dibilang kaya orang mau minta sumbangan! Please dong ah, pak. Ga segitunya kale! Ini lagi jadi tren. Di kalangan santri baru tapinya. "Ga pak. Ini buat jaga-jaga ajah. Siapa tau aku mau belanja banyak. Daripada ribet bawa tas plastik, kan mending ditaro dalem tas", sahutku dengan santai. Sungguh diplomatis sekali jawabanku. "Oalah..tak kiro lek arep nge-bom ngono. Kan lagi musim kie mas wong gowo tas tapi isine bom!", komentar sopir lalu tertawa setan.

Sempat aku berpikir jika benar isi dalam tas aku adalah bom, aku bakal peluk dirimu lalu meledakkan bom ini saat kita masih berpelukan, pak. Tapi aku hanya ikut tertawa. Meski hati ini miris.

*hening...


Dan dari percakapan singkat itu, aku bisa dapat kesimpulan : tidak selamanya orang tampan bisa diterima di masyarakat. Kadang ada beberapa orang yang iri dengan ketampanan yang kita miliki. Jadi buat kamu yang merasa tampan, yang sabar ya jalanin hidup ini.

Ya, itu semua hanya kesimpulan sesat yang aku ungkapkan. Entah mengapa, dunia ini sangat komplek. Sungguh rumit. Semua memiliki pemikiran berbeda tentang apa yang mereka alami.


Ini ceritaku, mana ceritamu??





Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar