Semua pasti setuju orang tua adalah 2 manusia paling berharga dalam kehidupannya. Terutama orang tua perempuan. Mama (begitu aku memanggilnya), adalah penyambung nyawa aku. Hidup dan tidaknya aku di dunia ini tergantung dari mama. Hidup disini aku artikan sebagai kesempatan meraih segala apa yang aku cita-citakan selama nafas berhembus dan jantung berdetak. Restu aku dari mama. Restu Tuhan juga dari mama. Ketika mama ikhlas dah ridho tentang segala sesuatu yang akan aku tempuh, maka Tuhan pun turut ikhlas dan ridho kepadaku. Sungguh mulia kedudukan mama.
*hela nafas...
*merinding...
9 bulan aku ngaso di rahim mama, beliau ga pernah protes. Bahkan mama berharap kehadiranku di rahimnya. Sadar dengan segala resiko yang akan mama tempuh selama 9 bulan ke depan. Ketika aku jengah lalu menendang ke dinding rahim, mama malah elus-elus perutnya.
"Sabar ya sayang. Jangan marah gitu", kata mama sembari menahan sakit.
Ketika aku memaksa untuk nongol dari rahim, mama pun menyadari itu. Tak peduli akan resiko terburuk. Segala pilihan yang ditawarkan juru lahir pun diterima. Asal aku bisa mecungul dan mama bisa bertemu aku secara nyata. Ada do'a untuk aku dalam kepedihan yang mama rasakan. Hanya untuk aku.
"Cepetaaannn!! Ga pake lama yang penting bayiku lahir selamat!!", teriak mama di lorong rumah sakit.
*hening...
*hela nafas...
Saat aku sudah bisa menikmati hingar-bingar dunia, mama setia mendampingiku. Masih tertawa meski aku sudah banyak bikin anggaran rumah tangga jadi bengkak. Masih gemes meski aku sudah berulang kali pipis tak kenal waktu. Masih membela meski aku pup di jok mobil yang mulus. Masih terjaga meski aku sudah tertidur pulas. Dan masih....ah, banyak sekali bukti kesetiaan mama ke aku. Ga sanggup ngetiknya. Bisa bercabang ntar jari-jari aku.
*hela nafas...
*aku lihat mama yang lagi tidur di samping aku...
*bersyukur...
Satu-satunya perkataan orang yang bisa aku percaya adalah perkataan mama. Satu-satunya perkataan yang bisa aku yakini bahwa kata itu adalah do`a dan makbul, adalah perkataan mama. Satu-satunya perkataan orang yang bisa aku dengar ketulusan dan kasih sayang di dalamnya, adalah perkataan mama.
"Da Othy gimana kabarnya? Sehat-sehat ya. Sabar jalanin semua selama jauh dari mama dan keluarga", kata mama di ujung telepon. Saat melepas rindu ga bisa dateng jenguk aku di pondok dulu.
"Ga usah ngebut! Inget mama. Selisihnya juga ga seberapa antara Da Othy ngebut atau ga", kata mama setiap aku telat berangkat ngampus dulu.
Ada juga yang begini,
"Da Othy dimana nak? Sekarang kok sering pulang malem terus"
"Di rumah temen ma. Nih kerja kelompok ada tugas dari kampus." (padahal kongkow di cafe).
"Oh ya udah mama percaya. Mama do'ain biar lancar trus dapet nilai bagus buat tugasnya."
"Iya ma, makasih"
Dan hasil akhirnya, aku ga lulus mata kuliah itu.
Yah...itulah mama. Selalu mendo'akan yang terbaik untuk aku. Namun Tuhan mendengarnya sebagai bentuk dusta stadium akut dari aku ke mama. Maka Tuhan pun membela mama dan memberikan hal yang pantas aku dapatkan. Jadi buat kalian yang masih sering tepu-tepu ke mama, jangan diulangi lagi deh. Mending tepu-tepu tukang buah daripada ke mama.
Mama juga selalu membela aku. Meski sebenarnya aku salah dan ga pantas dibela.
"Ini anak ibu yang serempet mobil saya duluan!"
"Iya saya tahu. Tapi ga perlu bentak seperti itu ke anak saya, kan!!"
*hela nafas...
*hening...
Kadang mama berujar sesuatu tentang aku ke orang lain. Yang sebenarnya itu aku anggap ga perlu mama ucapkan ke orang-orang. Seperti waktu itu, aku nemenin mama dateng ke pengajian+arisan ibu-ibu.
"Ini siapa, Jeng? Gandengannya sekarang brondong ya."
"Bukan brondong, mbakyu. Ini anak saya yang pertama. Hehehehe.."
"Oh ini anaknya toh? Ya ampun sudah setinggi ini ya anaknya, Jeng."
"Iya, ga terasa ya waktu jalan cepet banget. Ganteng kan ya anak saya?"
Kadang aku malu. Ga perlu mama sejujur itu ke teman arisannya. Ga perlu mama tanya pun, tante itu sudah tau kalau aku ganteng.
*hela nafas...
*senyum...
Begitulah mama. Kata-kata mama selalu baik untuk aku. Selalu yang terbaik.
Makasih ya, ma. Aku sayang mama. Selamanya..
*cium kening mama yang lagi tidur...
Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar