Sabtu, 31 Desember 2011

Apa Kata Dunia, 2012!!

Aku ga tau apa maksudku nulis tentang 2012. Aku bukan Tuhan yang menulis kisah 2012. Aku cuma, berandai-andai. Ya...sekedar berandai-andai tentang 2012. Yang katanya suku apalah namanya aku lupa, 2012 bakal jadi akhir dari segalanya. 2012 bakal jadi penutup kisah manis dan kenangan buruk tentang manusia. Dan kalian tau, aku sama sekali ga peduli kata suku apalah namanya aku lupa itu. Sungguh, aku bener-bener ga peduli.

*hela nafas...
*senyum....


Aku lagi ada di anjungan tug boat. Mencoba mengarang tentang bagaimana aku di tahun 2012. Ditemenin segelas susu coklat kesukaanku. Dan diiringi lagu The Spirit Carries On punya Dream Theater. Sungguh damai kondisi disini. Seandainya kalian ada di sampingku, kita bakal menikmati hembusan angin laut yang pelan dan sejuk. Menikmati kerlip bintang yang unyu. Dan menikmati kebersamaan kita menanti pergantian tahun.

Ga ada yang tau aku di anjungan. Kapten dan kru lain lagi sibuk dengan ikan-ikan hasil pancingan mereka tadi sore. Rencananya malem ini bakal ada acara bakar ikan. Dan aku berharap semua berjalan lancar. Maksudku, 470 ton minyak yang ada di tongkang ga berubah jadi kilatan kembang api yang menghiasi laut dan langit gara-gara api yang dibuat bakar ikan. Semoga aman. Amin...

*berdo'a khusyuk...
*cemas...


Sahabatku, di tahun 2012 ini punya rencana apa kalian semua? Apa ada yang berencana jalan-jalan ke bagian eksotis Indonesia? Atau ada yang punya rencana nikah di 2012? Hmm...Aku sendiri cuma punya satu harapan besar yang pengen banget bisa aku wujudkan di tahun 2012 : Bisa beli HD V-Rod Muscle! Udah dari dalem kandungan aku mimpi punya motor itu. Mungkin Tuhan sudah memprogram otakku dengan gambaran dan spesifikasi motor laki sejak pertama aku dibentuk. Ah...terima kasih Tuhan, diriMu bener-bener ngertiin aku banget. I Love You, God! *kiss and hug*

Itu keinginanku yang paling besar. Ada lagi keinginan yang agak besar : Bisa naik gaji. Juga ada keinginan yang hampir agak besar : Bisa dapet bonus yang besar. Trus ada juga keinginan yang sedikit hampir agak besar : Bisa jadi 'Besar'. Insya Allah, dengan ijin bapak direkur yang terhormat keinginanku di atas bisa terwujud. Amin..

*nyengir...


Aku juga manusia. Pasti punya keinginan yang besar dan tak terbatas. Keinginan di atas itu adalah keinginan besar yang bisa aku gapai dan atau bahkan bisa lenyap tak berbekas seperti mimpi. Aku cuma bisa berharap, berdo'a dan berusaha agar keinginan besar itu bisa terwujud. Sampai kapan pun kita bebas bermimpi dan berharap. Tapi kalo semua hanya sebatas mimpi dan harapan, apapun itu juga ga bakal bisa terwujud. Harus ada gerakan berontak dari dalem hati untuk bisa menjadikan semuanya nyata. Aku bilang berontak, itu artinya dipaksakan. Kenyataannya sebagian dari kita masih males buat jadi orang besar. Jangan seperti itu lah. Tuhan menciptakan kita untuk jadi pribadi besar dan kaya. Bukan lalu menjadi pribadi kecil dan miskin. Pribadi besar dan kaya yang aku maksud adalah besar perilaku dan kaya hati. Jangan dibalik ya. Kalo besar hati jadinya sombong. Dan kalo kaya perilaku jadinya juga sombong. Dan Tuhan ga suka ada yang lebih sombong dariNya. Ok?

*hela nafas....
*merenung....


Nah, setelah tadi kita bahas tentang keinginan besar, sekarang waktunya kita bahas keinginan Utama di tahun 2012. Eits...jangan samain keinginan besar dan keinginan utama ya. Itu 2 sifat yang berbeda. Keinginan besar boleh lenyap. Tapi keinginan utama harus digenggam.

*kedipin mata....


Umm...keinginan utama aku di tahun 2012 adalah menjadi pribadi yang semakin matang dan sukses. Itu yang paling utama. Kemudian disusul dengan keinginan yang agak utama adalah : Menikah. Yang sebelumnya diawali dengan mendapatkan calon istri. Lalu diikuti keinginan yang hampir agak utama adalah : Jalan-jalan. Yah...SEMOGA keinginan besarku bisa terwujud. Dan PASTI keinginan utamaku bakal terjadi. Seperti inilah seharusnya hidup. Berpikir positif dan selalu semangat menjalani segala yang telah dituliskan Tuhan.




                                          Sugeng Rawuh, 2012...








Tamat.

Jumat, 30 Desember 2011

Lelaki (Juga Manusia) : The Conclusion

Ini rangkaian terakhir tentang Lelaki. Aku share tentang beberapa kebiasaan Lelaki yang tak dipahami wanita. Sebagian mereka anggap umum dan sebagian mereka lagi anggap ini benar-benar kenyataan yang baru mereka sadari. Ini kesimpulan aku sendiri. Ga mengutip dan ga paten. Jadi buat kalian para wanita yang cantik dan anggun, jangan antipati dengan Lelaki kalian. Karena ga semua Lelaki seperti apa yang bakal aku share. Ga semua, tapi hampir semua. Beda tipis.


*hela nafas...
*pasang ikat kepala...
*bismillaah...



Beberapa kebiasaan Lelaki itu, adalah :


1. Lelaki 'cinta' Mainan.
Mungkin sedikit kekanakan. Tapi inilah fakta sesungguhnya. Bahwa Lelaki tidak bisa dipisahkan dari mainan. Bahkan tak jarang, demi menghabiskan waktu dengan 'kekasih gelapnya' itu para Lelaki kerap mengumbar kata-kata yang bersifat penolakan secara halus. Seperti saat kalian para wanita sangat rindu dan ingin sekali sms atau telepon dan saat itu Lelaki anda sedang asik dengan mainannya, maka 90% Lelaki akan menjawab, "Maaf, beib. HP aku silent tadi..", atau seperti ini, "Yank, aku lagi ga enak badan. Aku bobok dulu ya..". Yang terakhir ini biasanya jika anda telah berhasil mendapat perhatian Lelaki lewat beberapa kali chat sms atau beberapa menit sambungan telepon. Padahal kenyataannya, Lelaki anda tidak sakit dan juga tidak mengaktifkan mode hening di HPnya.



2. Lelaki suka Porno.
Buat kalian para Lelaki, jangan mengelak untuk hal satu ini. Bukan rahasia, bung. Hal porno adalah kebutuhan buat Lelaki. Ga tau berapa persentasinya. Tiap Lelaki jelas berbeda. Porno itu ibarat brunch (breakfast and lunch). Judulnya sama-sama kebutuhan. Tapi ga jelas karena menjadi satu dan enak.



3. Lelaki = Anak Mama.
Ga selamanya Lelaki anda berlaku manja kepada kalian para wanita. Adalah hal mutlak bahwa Lelaki adalah anak mama. Dan sejatinya akan selalu begitu. Selamanya, Lelaki akan tetap jadi anak mama. Pernah kan Lelaki anda membandingkan sesuatu dari diri anda dengan apa yang ada di diri mamanya? Misalnya dalam hal berbusana atau tata rias wajah. Atau juga kadang ketika anda memasak untuk Lelaki anda, biasanya juga terselip kata perbandingan antara masakan anda dengan masakan mamanya. Jangan keburu marah dulu. Memang itu satu hal yang alamiah. Daripada anda harus dibandingkan dengan wanita teman kantornya. Ya kan?



*hening...
*hela nafas...




Aku rasa 3 hal itu yang perlu di share. Akhirnya sampai disini aku nulis tentang Lelaki. Yang jelas aku puas bisa ungkapkan apa yang ada di dalam otak aku, tentang Lelaki. Ga banyak dan ga begitu penting. Aku cuma mau supaya lingkungan sekitar (terutama wanita), lebih memahami tentang apa dan bagaimana Lelaki.




Tamat.

Sabtu, 24 Desember 2011

Lelaki (Juga Manusia) : Deep Inside Your Heart

Tulisan tentang Lelaki ini bukan sebagai bentuk keluhan. Tapi tulisan ini murni lahir karena aku lelaki. Karena aku mengerti dan sedikit paham tentang apa yang lelaki rasakan dibalik besarnya tanggung jawab dan beban yang dipikul.

*hela nasfas…


Siapa selain Tuhan yang turut urun serta menghadirkan aku di dunia ini? Ya, mama dan papa. Tanpa mereka berdua, bagaimana mungkin aku menampakkan wajahku di ruang bersalin? Jangan anggap ini hal tabu yang tidak pantas dibicarakan di ruang publik. Ini penting. Dan lambat laun yang tabu pun menjadi lazim.  Jadi, tenang saja. Gitu ajah kok repot.

*hening…


Kita kesampingkan dulu figur mama. Yang sekarang kita utak-atik adalah papa, Sang Lelaki.  Umurnya tidak lagi kecil. Sudah 52 tahun. Beliau tidak lagi muda, namun masih menarik dan tampan. Seperti aku. Papa sudah harus pakai kacamata agar pandangannya jelas. Papa sudah tidak bisa lebih dari jam 10 malam saat bersama keluarga menonton tv di ruang santai. Papa sudah tidak lagi kuat menggendong aku dalam dekapannya. Ya, begitulah papa saat ini. Jauh sebelum aku beranjak dewasa, yang aku pahami adalah papa seorang pekerja kantoran dengan gelar sarjana hukum di belakang namanya. Ketika aku perlahan sudah pantas menerima beberapa kisah masa lalu keluarga aku, maka terdengar segala kisah tentang masa lalu papa. Tentang kisah percintaan papa. Tentang kisah pilu yang papa alami. Tentang kisah kerja keras papa. Dan masih banyak lagi. Yang aku dengar semuanya sangat amat pilu bagi aku. Semuanya. Meski kisah itu termasuk hal yang membahagiakan bagi yang lain. Tapi aku tetap merasakan pilu di dalamnya. Sungguh, semua yang papa alami bukan sesuatu yang ringan dan mudah. Seperti ini kah kodrat lelaki, Tuhan?

*hela nafas…
*hening…


Di antara teman-teman semua, ada yang pernah melihat papa atau bapak atau ayah atau daddy atau abi menangis? Silahkan jawab sendiri. Dan jawabanku : pernah. Aku pernah liat papa menangis. Saat itu si adik kecil sedang bermain sepeda roda tiganya. Aku yang diam sembari bermain tetris di teras rumah tidak menyadari kekacauan yang terjadi di luar pagar. Mendadak suara adik bergema dan menangis. Aku segera lari, di paving panas sore itu, adik jatuh dari sepedanya. Kepalanya bocor, dan aku lihat sepedanya tidak lagi beroda tiga. Tapi beroda satu! Dan itu tersisa di bagian belakang sebelah kanan. Jangan tanya bagaimana detail kejadian yang menimpa adik. Karena aku (sampai saat ini) juga tidak mengerti segala sesuatunya.

Singkatnya, adik aku bawa ke rumah sakit ditemani supir papa yang masih ada di rumah. Dengan perasaan bingung dan panik, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana saat mendengar jerit sakit adik dari koridor rumah sakit. Aku lihat papa di ujung koridor, berjalan cepat menuju aku. Dengan masih berpakaian kerja papa memeluk aku. Menanyakan keadaanku. Aku yakin papa sudah tahu kalau yang terluka itu adik, tapi papa yang menghampiri aku tetap menanyakan keadaanku. Aku yang menahan tangis sejak dari rumah, akhirnya menumpahkan air mata di pelukan papa. Meski aku tahu aku tidak mungkin disalahkan, tapi aku tetap merasa bersalah. Ini bukan kejadian kecil seperti ketika aku merebut mainan robot dari adik. Tapi ini kejadian laka lantas misterius yang jika polisi turun menangani, aku sudah pasti ditahan karena kelalaianku menyebabkan korban jiwa.

*hela nafas…
*lihat snack di atas meja…
*sabar, belum adzan maghrib…


Aku terdiam. Saat papa masuk melihat keadaan adik. Aku pun ikut masuk, didampingi mama. Dokter yang waktu itu masih sibuk berkutat dengan kepala adik, tampak tersenyum kecil. Dan berkata semua baik-baik saja ke papa yang bertanya. Aku perhatikan raut wajah adik yang merah karena menangis. Tanganku menggenggam erat tangan mama, yang lalu memberikan sentuhan lembut di kepalaku. Ya, aku ikut merasakan pedih yang adik rasakan saat jarum dan benang merapatkan kulit kepalanya yang bocor. Miris.
Mungkin papa juga tidak tahan mendengar jerit tangis adik. Papa memberikan sentuhan halus di dada adik sembari berjongkok di samping ranjang. Dan lalu, papa menangis. Papa menangis sembari kata tahan keluar dari mulu beliau. “Tahan ya, Da Eky. Tahan..”, semangat papa ke adik.

Aku terdiam. Sedih.

Sejak itu, entah berapa kali lagi aku melihat papa menangis. Tapi yang aku tahu, air mata papa bukan air mata kucing yang dijual di negeri jiran. Ah…maaf, aku keceplosan. Kalau yang itu jenis minuman. Maksut aku, air mata papa bukan air mata buaya. Papa menangis karena cinta yang begitu besar terhadap keluarganya. Tangisan kasih sayang.

*hening…
*hela nafas…


Jauh di dalam hatimu, coba renungkan satu hal tentang apa alasan sebenarnya dari sebuah tangisan lelaki.




(bersambung...)

Kamis, 22 Desember 2011

Lelaki (Juga Manusia) : Basic Knowledge

Mungkin ini tulisan pertama yang serius dari aku. Jangan buru-buru tutup halaman ini. Baca dulu sampai selesai. Ini mungkin juga berharga buat teman-teman pembaca. Aku bilang mungkin. Karena ga semua orang punya pemikiran sama. Mau kan ya, baca tulisan aku ini sampai selesai?

*merinding...
*hening...


Tidak tahu mengapa, sering sekali aku lupa bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk menghirup nafas sepuas aku mau. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk dapat menikmati harta, tahta dan wanita semampu aku bisa mendapatkan ketiganya. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan untuk lahir dari rahim seorang mama yang begitu cantik dan menyayangi aku. Bahwa aku hanya diberi satu kali kesempatan memiliki papa dan dua saudara yang kesemuanya lelaki. Sungguh, aku sering sekali lupa bahwa seluruhnya hanya satu kali kesempatan.

Aku terlahir sebagai lelaki. Bukan aku yang meminta. Bukan aku pula yang memutuskan. Tuhan yang berkehendak. Tuhan yang menugaskanku menjadi lelaki. Meski aku dapat meminta, aku juga bingung meminta lelaki atau wanita. Karena menurutku juga sama : Juga Manusia. Hanya perbedaan raga saja yang mencolok. Sifat pun juga kelak akan sama. Yang lelaki akan seperti wanita, yang wanita akan seperti lelaki. Maka tidak pantas jika aku meminta terlahir sebagai lelaki atau wanita. Karena aku tidak sanggup memberi jawaban tentang kehidupanku kelak.

*hening...
*hela nafas...


Sudah jadi santapan umum di sekitar kita, bahwa lelaki merupakan sosok tangguh. Yang di pundaknya bertengger beban besar dan berat. Yang dari rusuknya tercipta kasih sayang dan cinta. Yang dari ucapannya muncul jalan surga dan neraka. Dan masih banyak santapan lain. Namun itu semua hanya santapan. Bentuk jadi yang dihasilkan setelah diolah dengan peluh dan waktu. Itu yang tidak diketahui mereka, para penyantap. Mereka tidak mengerti, bahwa dibalik beban besar dan berat di pundaknya, lelaki juga merindukan kenyamanan dalam hidup. Merindukan keringanan semu yang bisa dinikmati. Bahwa dibalik rusuk yang hilang darinya, lelaki juga sangat rapuh meski mendapatkan kasih sayang dan cinta. Bahwa dibalik ucapan yang keluar dari mulutnya, lelaki juga mengharapkan pengampunan dari Tuhan bagi diri mereka sendiri. Semua tak tampak. Namun ketika sekitarnya tahu akan hal ini, mereka hanya tertawa. Mereka hanya mencemooh, "Lelaki macam apa kamu". Atau mungkin seperti di layar bening, "Laki kok minum rasa-rasa..". Mereka hanya bisa seperti itu.

*hela nafas...
*minum susu coklat...





(bersambung....)

Notaris, oh....Notaris

Hadeeeuuhh...

Susah ternyata ya untuk tumbuh dewasa dan berkembang lalu memahami hal-hal baru yang ada di dunia ini. Dari bayi yang polos, yang ga tau apa-apa. Lalu tumbuh menjadi balita lucu yang perlahan mengenal mainan. Dan tumbuh lagi jadi bocah lugu tapi sudah pintar pilih lembaran merah daripada yang biru. Kemudian tumbuh lagi menjadi remaja tanggung yang mulai memahami cinta monyet. Dan lalu tumbuh lagi menjadi remaja sok dewasa yang mengenal mantan, jomblo, galau dan sebangsanya. Dan lalu kemudian tumbuh lagi menjadi pribadi matang yang bisa bekerja mandiri. Dan lalu kemudian setelahnya tumbuh lagi hingga saat ini aku harus berurusan dengan...AKTA JUAL BELI TANAH!!

*hening...
*hela nafas...

Alhamdulillaah. Alhamdulillaah. Dan Alhamdulillaah. Segala puji bagi Tuhan Sang Pemberi Nyawa di raga yang sempurna ini. Setelah berhasil memahami satu demi satu pengetahuan penting, Engkau memberikan pengetahuan baru yang harus aku pelajari lagi. Sungguh Engkau tidak pelit, Tuhan. Tidak seperti adik kelasku dulu di pondok yang bernama XXX (nama disamarkan karena lupa). Sungguh tega dia melihat kakak kelasnya yang tampan ini kelaparan di depan rayon. Duduk meringkuk. Kedinginan. Bibir pecah-pecah. Kulit gatal dan kering. Mata berkunang-kunang. Dan rambut penuh ketombe (Hanya hiperbol. Jangan takut buat masuk pondok ya!).

"Heh, kamu ada Indomie ga di lemari?", tanyaku saat itu. "Waduh..mahfi ana, yal'ah. Kholas yantahi. Hadza ana faqot urid abhas-abhas fulus receh. Man ya'rif maujud alladzi jatuh di tanah (Waduh..ga ada saya, kak. Sudah habis. Ini saya saja mau cari-cari uang receh. Siapa tahu ada yang jatuh di tanah", jelasnya kepadaku.

Ebuseeett...!! Nih adik kelas ternyata lebih menderita daripada aku. Tabahkan hatimu, dik. Berjuanglah mencari recehan hingga kelak kau bisa bayar SPPmu.

Tapi sejatinya aku sudah tau dia berbohog. Aku paham betul seberapa tingkat kemampuan orang tua-nya. Didukung dengan fakta bahwa kemarin saat dijenguk, dia dapat satu kardus Indomie baru. Lengkap dengan lakban beningnya dan label harga yang masih melekat. Ah...dirimu memang pelit, dik.

*hela nafas...


Kita kembali ke masalah Akta Jual Beli yang jadi berkah buat aku.

Setelah satu tahun lebih sedikit aku bekerja, segala yang aku hasilkan ternyata sudah bisa diinvestasi dalam bentuk tanah dan bangunan. Maaf, bukan segala. Maksut aku sebagian. Karena sebagian lagi ditambah dari rekening papa. Yogjakarta, lokasi yang aku pilih. Sebenarnya di Surabaya pun baik. Tapi dengan pemikiran bahwa suatu saat butuh berlibur yang hemat dan nyaman, maka diputuskan untuk mencari tanah di luar Surabaya. Lagipula, harga tanah di kota besar seperti Surabaya jauh lebih mahal. Selisihnya bisa 5x lebih mahal dengan Yogjakarta. Itu dengan luas tanah yang sama. Tanpa memperhatikan letak strategis atau tidaknya tanah tersebut.

Setelah memantapkan diri dan niat, mama berangkat ke Yogjakarta. Dibantu kawan kuliahnya dulu, mama bisa dengan cepat menentukan pilihan. Singkat cerita, dimulailah tahapan penting dalam hal jual-beli tanah : pembuatan AJB (Akta Jual-Beli) Tanah.

Namanya Ibu Indah. Atau lebih enak dipanggil, mbak Indah. Umurnya masih 28 tahun. Kerja nebeng di kantor PPAT punya bapaknya. Kebetulan (ini sungguh kebetulan) urusan AJB aku ini mbak Indah yang tangani. Namanya juga masih katro masalah AJB, aku yang waktu itu lagi di tengah laut cuek ajah bilang ke mama kalau mama ajah yang urus semuanya. Aku ga bisa ninggalin kerjaan. Tapi begitu mama bilang nanti kalau yang urus semua mama, sertifikat yang keluar nanti juga atas nama mama, aku langsung berubah haluan. Dari tengah laut jam 1 dini hari, aku buru-buru nyembah kapten buat mau anter aku ke darat. Itu pun setelah aku ngerayu dengan rayuan transfer pulsa antar provider.

Paginya langsung meluncur ke Yogjakarta. Langsung ketemu mama. Dan langsung ke kantornya mbak Indah. Alamak..begitu masuk ruangan dan ketemu langsung sama orangnya, hati ini langsung cenat-cenut gak-gak-gak kuat!!

"Ini pasti bidadari yang diusir Tuhan dari surga", batinku dalam hati.

Sungguh yang ada di hadapanku adalah raga yang sempurna. Sekian detik aku bengong karena takjub. Sayangnya, kalian tidak disana saat itu bersamaku. Menikmati paras ayu mbak Indah.

*hening...
*kebayang wajah mbak Indah...


"Bapak Asmaranda Farchan Hakim, benar?", kata-kata lembut itu terucap dari bibir kecilnya. "Maaf, bu. Jangan dipanggil bapak. Saya masih 23 tahun. Iya benar saya Asmaranda Farchan Hakim", jawabku sembari menerangkan kalau aku ini masih brondong. "Ohh..maaf kalau gitu. Saya kira sudah bapak-bapak. Soalnya berkumis", selorohnya sambil tertawa kecil. "Ga apa-apa lah mau mbak panggil bapak, om, mbah atau siapa pun. Yang penting aku padamu, mbak Indah!", batinku dalam hati. "Berarti yang bersangkutan anaknya ya, bu?", tanya mbak Indah ke mama aku. Mama menjawab dengan anggukan. "Baiklah kalau begitu. Saya bacakan dulu ya yang tertera di lembar ini. Mohon dikoreksi kalau ada salahnya", jelas mbak Indah. Dan lalu mbak Indah membaca segala yang ada dalam lembaran di hadapannya.

Aku mendengar. Tapi ga konsen. Karena perhatianku masih tertuju ke mata mbak Indah. Ya, matanya yang berkilau cerah seperti lampu lalu lintas di jalanan. Maksut aku cerahnya ya, bukan warnanya. Repot kalau mata mbak Indah warna merah, hijau dan kuning. Dari mata turun ke hidung. aku perhatikan hidungnya itu mulus. Mungkin semut yang jalan di hidungnya bisa kepeleset jatuh saking licinnya permukaan hidung mbak Indah. Bulu hidungnya juga rapih. Ga ada yang menjuntai keluar. Benar-benar hidung ideal. Dari hidung turun ke bawah sedikit. Aku semakin yakin kalau mbak Indah ini wanita tulen dan asli. Ga ada tanda-tanda mbak Indah berkumis atau pernah memiliki kumis. Sempurna sekali. Setelahnya turun lagi ke bibir. Ah...yang ini sangat susah aku jelaskan. Bayangkan saja bibir Selena Gomes dan Anggelina Jollie digabung jadi satu. Bibir atas punya Selena, dan bibir bawah punya Jolie. Sangat amat random. Eksotis. Eksklusif. Empiris. Edukatif. Efektif dan is-if lainnya lah. Perfecto! Aku padamu, mbak Indah.

*hening...
*kebayang wajah mbak Indah...


"Gimana mas Asmaranda, apa ada koreksinya?", mbak Indah bertanya. Membuyarkan semua anganku tadi.
"Koreksi? Anu...ga ada mbak. Sudah benar semua", jawabku terbata. "Ok. Kalau semua data sudah benar dan persyaratan sudah lengkap, sekarang tinggal membuat pernyataan tertulis dari pihak pembeli dan penjual tentang beberapa hal sebagai syarat pembuatan AJB ini", terang mbak Indah.

Ketika semua beres, berakhirlah pertemuan singkat itu. Tidak percuma aku keluar pulsa 20.000,- untuk menyogok kapten supaya mau diantar ke darat. Tidak percuma aku lari-lari mengejar kereta sewaktu berangkat dari Surabaya. Tidak percuma aku punya wajah tampan. Dunia memang indah.

*hela nafas...
*tersenyum...


Sejatinya, akta yang ditangani mbak Indah sudah keluar tanggal 20 Juli 2011 lalu. Tapi karena aku dan mama masih menikmati liburan di negeri luar, jadi papa yang ambil dan urus semuanya.

Mbak Indah oh mbak Indah..
Notaris oh notaris..
Wajahmu mengalihkan tanda tanganku ke akta-mu..





Tamat.

Kesimpulan Sesat

Aku hampir lupa kalau sebenarnya aku ini lahir di Indonesia. Dulu waktu di rahim mama, aku sempat berdo'a dan meminta kepada Tuhan. "Ya Tuhan bisakah aku lahir di Amerika? Aku kepengen jadi artis yang nanti bisa jadian sama Selena Gomes..", do'aku kepada Tuhan. Lalu samar-samar aku mendengar lantunan tembang jawa dari luar rahim.
"Yen ing Tawang ono lintang..."
Astaga, di luar sana bukan Amerika! Ini kesalahan besar! Aku pasti orok yang tertukar! Omegot! OMG! Ooouucchh...!! Auuucchh..!! Uooowwhh...!!

*histeris
*hening...


Tapi nasi sudah menjadi dedak. Aku pun merelakan Selena yang saat ini bersanding dengan Justin. Setiap kali ada beritannya di layar tv, hatiku bergetar. Aku yakin disana pun hati Selena ikut bergetar. Ini bukti bahwa seharusnya aku yang bersama Selena. Bukan Justin!

*emosi...
*bakar foto Justin...


Sudah lah. Saat ini aku sudah bisa menerima segalanya. Toh biarpun aku ga jadi sama Selena, wajahku tetap tampan. Suaraku juga ok. Cuma sayang kulitku ajah yang berbanding terbalik sama Justin. Ga apa-apa, cuma kulit ini.

Kenyataan bahwa aku lahir di negeri impian Indonesia ini, banyak memberi manfaat dan pelajaran penting bagi aku. Mungkin orang sedikit sekali yang tahu bahwa negeri impian Indonesia ini, begitu banyak tersimpan berjuta kekayaan yang tak kasat mata. Terbukti dengan munculnya krim pencerah wajah yang dihasilkan dari bawah negeri impian Indonesia ini. Lokasinya di Sidoarjo sana. Itu juga ga sengaja nemunya. Dan krim tersebut tidak akan habis sampai 10 tahun ke depan. Hebat, kan?! Negeri impian Indonesia ini sangat kaya!

*hening...


Terlepas dari semua penyesalanku, aku masih tetap bersyukur. Sejak lahir aku sudah dibekali ilmu pengetahuan dasar. Dimulai dari pelajaran menghitung dari sang juru lahir. Aku masih ingat dulu waktu mama mau ngeluarin aku, si juru lahir dengan suara lantang membentak kepadaku. "Ayo nak, sedikit lagi. 1.....2.....3...dorong bu!". Dari kata-kata juru lahir aku bisa ambil kesimpulan : Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan aku di dunia. Hanya butuh hitungan 1...2...3.

Itu pelajaran pertamanya. Yang selanjutnya ketika aku sudah di rumah. Teman-teman mama datang buat liatin wajah eksotis aku. Mereka semua memuji ketampanan yang terlanjur nempel di wajah aku. "Waduh ini baby-nya lucu banget. Mirip mamanya". Dari kata-kata tante itu aku bisa ambil kesimpulan : Tidak semua laki-laki itu ganteng. Buktinya aku dibilang mirip mama. Padahal mama kan cantik.

Lalu ketika aku mulai merayakan lebaran pertama aku. Setelah sungkem dan cipika-cipiki sama nenek, aku pun menerima 5 lembar pecahan seribu dari nenek. Begitu gembiranya aku saat itu. Namun, kegembiraanku luntur seketika. Sesaat setelah aku sungkem, aku lihat kakak sepupu aku diberi 5 lembar tapi kali ini pecahan sepuluh ribu. Aku pun terdiam. Memandang nenek dengan tajam. "Ini buat kamu. Jatahnya lebih banyak dari Othy, kan soalnya sudah besar..". Dari kata-kata nenek aku bisa ambil kesimpulan : jadi anak kecil itu ga enak. Jatahnya lebih sedikit.

Salah satu pelajaran penting lainnya terjadi saat aku di pondok dulu. Di Solo, ada angkutan kota. Labelnya 01A. Tiap kali waktu pesiar (keluar komplek buat jalan-jalan), sudah sewajarnya naik angkutan itu. Karena memang angkutan itu sejalan dengan tempat yang biasa anak-anak pondok tuju.

Siang itu setelah sholat Jum'at, aku dan kawan-kawan lain bergegas untuk memanfaatkan waktu pesiar yang hanya 5 jam. Tujuan kami sudah jelas : Matahari Singosayen (nama disamarkan agar tidak terjadi penyelidikan lebih lanjut). Di pinggir jalan besar itu, kami menunggu 01A. Begitu teriknya sinar matahari saat itu. Aku masih ingat betul, peluh menetes deras dari kening dan lubang hidungku. Sangat deras mengucur. Cur...cur...currr...

*ambil tissue...
*lap keringat yang menetes...


Akhirnya 01A pun muncul di ujung sana. Dengan asap mengepul hitam dan membumbung tinggi dari ujung knalpotnya. Tumpangan dengan warna kuning telur basi itu berjalan menuju arah kami. Ini sudah naluri mungkin, semua sopir 01A sudah tahu harus memilih kami sebagai penumpang. Gerombolan anak-anak culun dengan model sisiran belah pinggir. Baju kemeja dimasukkan. Celana kain halus dengan lipatan di bawahnya. Sepatu sandal Nyeckerman. Dan, membawa tas ransel yang sejatinya itu adalah tas sekolah sehari-hari. Omegottt...sungguh culunnya aku di masa itu.

*hela nafas...


"Ayo masuk, mas! Bangku panjang wong enem yo. Geser sithik mbak'e ayo..", seru sang sopir.
Dan aku pun masuk. Duduk di depan.

Ini mungkin juga naluri, sang sopir menatapku sesaat. Lalu tersenyum. Aku yakin dia kagum dengan ketampananku. Sudah jelas dan pasti. Semua orang yang pertama kali melihatku juga bereaksi seperti sopir ini. "Jek model ta mas mlaku-mlaku gowo tas ransel ngono? Koyok arep njaluk sumbangan ae!", sang sopir membuka pembicaraan.

Aku sontak kaget dengan kata-kata itu. Hasyu, aku dibilang kaya orang mau minta sumbangan! Please dong ah, pak. Ga segitunya kale! Ini lagi jadi tren. Di kalangan santri baru tapinya. "Ga pak. Ini buat jaga-jaga ajah. Siapa tau aku mau belanja banyak. Daripada ribet bawa tas plastik, kan mending ditaro dalem tas", sahutku dengan santai. Sungguh diplomatis sekali jawabanku. "Oalah..tak kiro lek arep nge-bom ngono. Kan lagi musim kie mas wong gowo tas tapi isine bom!", komentar sopir lalu tertawa setan.

Sempat aku berpikir jika benar isi dalam tas aku adalah bom, aku bakal peluk dirimu lalu meledakkan bom ini saat kita masih berpelukan, pak. Tapi aku hanya ikut tertawa. Meski hati ini miris.

*hening...


Dan dari percakapan singkat itu, aku bisa dapat kesimpulan : tidak selamanya orang tampan bisa diterima di masyarakat. Kadang ada beberapa orang yang iri dengan ketampanan yang kita miliki. Jadi buat kamu yang merasa tampan, yang sabar ya jalanin hidup ini.

Ya, itu semua hanya kesimpulan sesat yang aku ungkapkan. Entah mengapa, dunia ini sangat komplek. Sungguh rumit. Semua memiliki pemikiran berbeda tentang apa yang mereka alami.


Ini ceritaku, mana ceritamu??





Tamat.

Pelajaran Tentang 'CD'

Kisah lama..

Adik laki-laki aku yang paling busuk (maksudnya bungsu), sudah mulai tumbuh rasa penasarannya akan sesuatu yang baru dan unik. Meskipun ngomongnya masih ketuker antara R dan L. Ajaib memang, otak anak kecil mampu merekam hal-hal baru dengan sangat cepat. Sedangkan kita (jangan pada ngeles ya) yang pada tuir ini (jangan ngeles lagi, terima aja kenyataan) buat inget seuatu yang baru aja kadang masih loading. Misalnya, sering banget kita lupa sudah punya pacar yang jelas-jelas satu kampus, satu fakultas dan satu kelas. Tapi karena lupa, kita akhirnya pacaran lagi sama anak kampus tapi yang beda fakultas. Aneh kan?? Ya seperti itu lah kita!

*hening...


Balik lagi ke cerita adik aku..

Suatu saat ketika akan mau berangkat sekolah perdananya, aku lihat dia sibuk sekali acak-acak lemari pakaian. Padahal aku lihat baju play-group yang mau dia pake sudah siap di atas kasur. Karena penasaran banget, aku iseng nanya,
"Ngapain dek? Kok diberantakin gitu baju-bajunya?", tanya aku pelan.
"Ini lho, Da. Aku nyali-nyali celana aku..", jawabnya dengan nada nelangsa.
"Itu kan sudah disiapin mama. Di atas kasur. Tuh coba liat", jawabku sambil nunjuk seragam dia.
"Bukan itu, Da. Celana yang satunya lho ah!", balasnya sambil sedikit mewek emosi.

Semakin bingung aku sama apa yang dia maksut. Celana apa sih yang dicari sampe harus acak-acak lemari? Aku sempat mikir kalau dia lagi nyari celana jeans pendek favorit dia. Tapi masa iya dia mau ke play-group pake celana jeans??
"Celana apa sih, dek? Sini Da Othy bantu cariin. Ga usah mewek gitu ah. Dah busuk malah tambah jelek ntar", goda aku sambil deketin dia.

Mama yang waktu itu lagi nyiapin sarapan juga ikut denger percakapan di kamarku.
"Nyari apa sih, Ot?", teriak mama dari arah dapur.
"Nyari celananya adek, ma", jelasku dari dalam kamar.

Mama yang (aku yakin juga bingung) merasa sudah menyiapkan semuanya dengan rapih pun, akhirnya ikut nimbrung masuk ke kamar.
"Itu kan celananya di atas kasur, dek" jelas mama ke si busuk.
"Duuhh..mama ini lho. Adek ga nyali celana itu!", si busuk tambah sewot. Mewek.

Aku menatap mama dengan pandangan bingung. Mama pun juga memandangku dengan pandangan lebih bingung dari aku. Sementara si adik masih seenaknya sendiri buang-buang baju di lemari. Dari rak satu ke rak lain. Akhirnya si busuk satu ini nemuin apa yang dia cari,
"Nah ini loh yang adek cali dali tadi!", soraknya sambil mengangkat celana yang dia maksut.
"Kalo ndak pakai ini ntal titit adek ga ketutupan, ma. Kan adek malu ntalnya tititnya keliatan!", si busuk menerangkan ke mama sambil masih mengangkat tinggi celananya.

Ebuseeett....!!! Jadi demi celana ini dia sampe harus acak-acak lemari. Sampe harus mewek emosi. Dan sampe harus bikin bingung aku sama mama. Demi sebuah CD a.k.a Kancut!!!

Selama ini yang adik pahami adalah, ada sebuah benda berbentuk segitiga dengan kolor di atasnya yang berfungsi buat nutupin titit busuknya dia. Tanpa tahu apa sebutannya. Dari kejadian pagi itu, aku dan mama sepakat. Setelahnya si busuk ini harus lebih dikenalkan dengan CD dan sebangsannya. Supaya ga bikin bingung orang





TAMAT

Kata-Kata Mama

Semua pasti setuju orang tua adalah 2 manusia paling berharga dalam kehidupannya. Terutama orang tua perempuan. Mama (begitu aku memanggilnya), adalah penyambung nyawa aku. Hidup dan tidaknya aku di dunia ini tergantung dari mama. Hidup disini aku artikan sebagai kesempatan meraih segala apa yang aku cita-citakan selama nafas berhembus dan jantung berdetak. Restu aku dari mama. Restu Tuhan juga dari mama. Ketika mama ikhlas dah ridho tentang segala sesuatu yang akan aku tempuh, maka Tuhan pun turut ikhlas dan ridho kepadaku. Sungguh mulia kedudukan mama.

*hela nafas...
*merinding...


9 bulan aku ngaso di rahim mama, beliau ga pernah protes. Bahkan mama berharap kehadiranku di rahimnya. Sadar dengan segala resiko yang akan mama tempuh selama 9 bulan ke depan. Ketika aku jengah lalu menendang ke dinding rahim, mama malah elus-elus perutnya.
"Sabar ya sayang. Jangan marah gitu", kata mama sembari menahan sakit.

Ketika aku memaksa untuk nongol dari rahim, mama pun menyadari itu. Tak peduli akan resiko terburuk. Segala pilihan yang ditawarkan juru lahir pun diterima. Asal aku bisa mecungul dan mama bisa bertemu aku secara nyata. Ada do'a untuk aku dalam kepedihan yang mama rasakan. Hanya untuk aku.
"Cepetaaannn!! Ga pake lama yang penting bayiku lahir selamat!!", teriak mama di lorong rumah sakit.

*hening...
*hela nafas...


Saat aku sudah bisa menikmati hingar-bingar dunia, mama setia mendampingiku. Masih tertawa meski aku sudah banyak bikin anggaran rumah tangga jadi bengkak. Masih gemes meski aku sudah berulang kali pipis tak kenal waktu. Masih membela meski aku pup di jok mobil yang mulus. Masih terjaga meski aku sudah tertidur pulas. Dan masih....ah, banyak sekali bukti kesetiaan mama ke aku. Ga sanggup ngetiknya. Bisa bercabang ntar jari-jari aku.

*hela nafas...
*aku lihat mama yang lagi tidur di samping aku...
*bersyukur...


Satu-satunya perkataan orang yang bisa aku percaya adalah perkataan mama. Satu-satunya perkataan yang bisa aku yakini bahwa kata itu adalah do`a dan makbul, adalah perkataan mama. Satu-satunya perkataan orang yang bisa aku dengar ketulusan dan kasih sayang di dalamnya, adalah perkataan mama.

"Da Othy gimana kabarnya? Sehat-sehat ya. Sabar jalanin semua selama jauh dari mama dan keluarga", kata mama di ujung telepon. Saat melepas rindu ga bisa dateng jenguk aku di pondok dulu.

"Ga usah ngebut! Inget mama. Selisihnya juga ga seberapa antara Da Othy ngebut atau ga", kata mama setiap aku telat berangkat ngampus dulu.

Ada juga yang begini,
"Da Othy dimana nak? Sekarang kok sering pulang malem terus"
"Di rumah temen ma. Nih kerja kelompok ada tugas dari kampus." (padahal kongkow di cafe).
"Oh ya udah mama percaya. Mama do'ain biar lancar trus dapet nilai bagus buat tugasnya."
"Iya ma, makasih"
Dan hasil akhirnya, aku ga lulus mata kuliah itu.

Yah...itulah mama. Selalu mendo'akan yang terbaik untuk aku. Namun Tuhan mendengarnya sebagai bentuk dusta stadium akut dari aku ke mama. Maka Tuhan pun membela mama dan memberikan hal yang pantas aku dapatkan. Jadi buat kalian yang masih sering tepu-tepu ke mama, jangan diulangi lagi deh. Mending tepu-tepu tukang buah daripada ke mama.

Mama juga selalu membela aku. Meski sebenarnya aku salah dan ga pantas dibela.
"Ini anak ibu yang serempet mobil saya duluan!"
"Iya saya tahu. Tapi ga perlu bentak seperti itu ke anak saya, kan!!"

*hela nafas...
*hening...


Kadang mama berujar sesuatu tentang aku ke orang lain. Yang sebenarnya itu aku anggap ga perlu mama ucapkan ke orang-orang. Seperti waktu itu, aku nemenin mama dateng ke pengajian+arisan ibu-ibu.
"Ini siapa, Jeng? Gandengannya sekarang brondong ya."
"Bukan brondong, mbakyu. Ini anak saya yang pertama. Hehehehe.."
"Oh ini anaknya toh? Ya ampun sudah setinggi ini ya anaknya, Jeng."
"Iya, ga terasa ya waktu jalan cepet banget. Ganteng kan ya anak saya?"
Kadang aku malu. Ga perlu mama sejujur itu ke teman arisannya. Ga perlu mama tanya pun, tante itu sudah tau kalau aku ganteng.

*hela nafas...
*senyum...


Begitulah mama. Kata-kata mama selalu baik untuk aku. Selalu yang terbaik.
Makasih ya, ma. Aku sayang mama. Selamanya..

*cium kening mama yang lagi tidur...




Tamat.

Antara @radityadika, @poconggg dan @farchanhakim

Sebagai pembuka, aku coba buat share tentang fenomena menakjubkan di dunia maya. Aku ambil secara random aja. Kegiatan Follow, Follow Back dan Unfollow di Twitter merupakan rutinitas penghuninya setiap hari. Selain sesama sahabat dan rekan kerja, kadang seseorang melakukan kegiatan ini ke sebuah akun yang mereka anggap menarik untuk diikuti dan disimak tweet-nya setiap saat. Ada beberapa akun yang followers-nya bisa mencapai ribuan. Bahkan ratusan ribu. Kebanyakan akun ini adalah akun-akun milik artis terkenal. Wajar lah ya, secara mereka artis, dan para followers adalah fans mereka di dunia nyata. Meskipun ga di follow back sama si artis, tapi para followers tidak kecewa. Karena dengan follow akun idola mereka, itu artinya mereka sedikit lebih agak merasa lebih dekat dengan sang idola.

Selain artis, ada juga akun-akun yang hadir hanya dengan tujuan menghibur. Dan para followers mereka juga bisa mencapai ribuan. Ada diantara mereka bukan orang terkenal. Tapi bisa jadi terkenal karena akun yang mereka ciptakan. Disini aku cuma mau bahas 3 akun yang 2 diantaranya memang sempat merepotkan Densus 88 antiteror. 2 akun ini pemilknya dianggap sepasang 'pengantin'. Satu dengan wajah tampan menyesatkan. Dan satunya lagi buruk rupa menjijikkan. Benar-benar..entahlah.

Akun pertama milik @radityadika

*fireworks menyala di kanan-kiri layar leptop…
*para pemain marching-band mulai beraksi…
*juga ada atraksi debus dari Master Limbad…

Laki-laki ini sudah terkenal sejak di dalam kandungan. Avatarnya masih sedap dipandang. Setidaknya, masih laku lah buat tempelan di cermin kamar orang-orang maho. Mengagumkan memang, jika melihat perkembangan akun ini. @radityadika pria eksotis yang katanya bisa ngupil sambil kayang ini, lebih dulu popular di kalangan anak muda dengan ‘Kambing Jantan’. Lalu diikuti dengan beberapa buku lain yang terbit setelahnya. Ditambah lagi, saat ini @radityadika mulai meracuni layar kaca melalui beberapa iklan dan program edukatif interaktif bagi anak muda. Sangat wajar jika dengan segala kisahnya itu, @radityadika mampu membuat hati para penduduk tweetland iba lalu merelakan diri mereka menjadi followers pria ini.

Dan @poconggg mengintil di belakangnya.

*sorak-sorai pembaca…
*diikuti suara siulan tinggi melengking…
*suasanan begitu meriah…

Nah...yang ini malah ga pernah terlintas bisa hadir di dunia Twitter. Avatarnya juga ga menggambarkan ketampanan. Malah lebih cocok ditempel di depan pintu rumah, buat buang sial dan tolak bala. Dengan tanpa memiliki tangan dan daya tarik apapun, setan busuk ini telah berhasil menghasut ribuan anak muda bahkan abg tua untuk bersama-sama menyuarakan : KLIK FOLLOW FOR @poconggg !! Lambat laun seiring berjalannya waktu, kehadiran @poconggg begitu membuat resah kaum minoritas. Terbukti dengan adanya usaha untuk merebut dan mengambil alih kekuasaan akun miliknya. Gila memang, seonggok daging dengan balutan kain putih bekas, bisa menarik perhatian ribuan orang di dunia maya.Ter....La....Lu...

Dan akhirnya sampai pada akun ketiga. Jrengg…jreng…jreeennngg!!!

*hening….
*tanpa tepuk tangan….
*sebagian pembaca mungkin ada yang langsung ke toilet…

Yasudah langsung aja kita bahas akun @FarchanHakim ini. Who is he?? Reaksi berbeda dengan kedua akun di atas. Buat @radityadika dan @poconggg yang sukses dengan ribuan followers khilaf-nya, akun terakhir ini harus ikhlas hanya dengan 25 followers. Ya, hanya 25 manusia saja. Itu pun kemungkinan hanya 3 yang masih setia menikmati tweet @FarchanHakim. Sisanya lagi yang 22 orang telah memutuskan memilih option MUTE (kasian sekali nasibku). Laki-laki random ini memang bukan siapa-siapa. Mulai aktif ngetweet sejak Februari 2011, @FarchanHakim hanya fokus tentang siapa, bagaimana dan mengapa dirinya terlahir di dunia. Tweet-nya juga ga special dan menarik. Kadang galau. Kadang melow. Kadang religius. Kadang norak. Kadang rusak. Kadang…. Ah sudahlah, kasian kalo dilanjutin terus.Hidupku sudah terlalu merana...

*ambil tissue ngelap ingus…
*menyesal sudah bahas tentang ini...




TAMAT.