: El's Coffee Shop and Bookstore
: Mall Solo Paragon
Baru sekitar 1 jam yang lalu aku sentuh novel 'Negeri 5 Menara' karya Ahmad Fuadi. Detik ini, saat aku mengetikkan huruf demi huruf di tulisan ini, aku mulai terjebak dalam satu pertanyaan yang amat sangat menjelimetkan (membingungkan) : Harus bagaimana aku mengawali perjalanan kisah Assalaam?
Ditemani coklat panas cair yang benar-benar panas, aku sengaja membaca novel itu dari bagian paling belakang. Dimana ada berbagai macam komentar pujian yang dituliskan oleh pribadi-pribadi terkenal. Lalu mulai masuk ke halaman dimana sang penulis diperkenalkan secara detail, mulai dari awal pendidikan, jenjang karir dan segerbong prestasi yang bisa bikin Syahrini mengucapkan kata "Sesuatu"nya itu. Nah, berhenti sejenak di halaman ini saja sudah bikin aku pusiang tujuah kaliliang. Dibandingkan dengan Ahmad Fuadi yang selalu cari gratisan dalam menempuh pendidikannya hingga ke luar negeri sana, aku dan kawanku smemang jauh terjerembab di dasar jurang. Matilah ini kalau memang nantinya akan terbit novel tentang Assalaam, Mau ditulis apa prestasiku dan satu kawanku itu? Ah, lam madza-madza kholas masduk awalan hadza. Apes..
*garuk-garuk pangkal paha...
*memandang poster cherrybelle..
Sudahlah, untuk masalah prestasi dan jenjang pendidikan yang wah itu aku rasa bisa diakali dengan sedikit permainan kata. Akhirnya aku lanjutkan membaca, kali ini aku mulai dari bagian depan. Kata pengantarnya ok. Daftar isinya ok. Cerita pertama... Cerita kedua... Cerita ketiga... Keempat... Kelima... Dan aku tutup novel setebal 423 halaman itu. Aku tersandar di sofa. Aku katupkan kedua tanganku diwajahku. Aku hembuskan nafas pelan dan datar. Aku tarik rambutku kebelakang. Sedikit aku seruput coklat panasku. Dan aku bertambah pusing. Apa yang sudah ada dalam benakku tentang kerangka cerita awal-tengah-akhir mendadak hilang. Semuanya diluar perkiraanku. Aku sama sekali ga menyangka bahwa kehidupan pondok itu selalu sama di awal. Aku kira kisah perjalananku di Assalaam di tahun pertama berbeda jauh dengan kisah tahun pertama Ahmad Fuadi di Gontor. Kenyataannya : dari A sampai Z semua sama dan hampir mirip!
Ini yang bikin aku bingung. Kehampir miripan ini jelas tidak menguntungkan dalam rencana penulisan cerita Assalaam ini. Pasti nanti banyak komentar miring dan singkat namun berat. Entah itu dikira meniru alur dan kerangka, entah itu dinilai tidak kreatif atau bahkan dipandang sebagai sensasi belaka. Apes..
*ambil hape...
*liat foto-foto anita chibi...
Baiklah, mungkin ini namananya tantangan. Aku dan kawanku dipaksa untuk benar-benar menyajikan nuansa yang Assalaam banget di setiap cerita yang kita publish. Sedikit berat. Karena dari segi nuansa dan emosi setting pun bisa dipastikan memang mirip. Tapi hati telah bertekad, telunjuk terlanjur gatal menuliskan kisah Assalaam. Jadi, aku dan kawanku ga boleh mundur. Setidaknya harus dengan mencoba terlebih dahulu.
"Do'akan Kami Yaaa...!!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar