Kamis, 29 Maret 2012

Adaptasi Yang Aneh : 1

Adzan shubuh berkumandang di sisi luar jendela. Sayup. Cahaya matahari masih belum nampak ketika aku sibuk memeriksa kembali barang-barang bawaanku. Aku sudah bangun sekitar 1 jam lalu. Tidak biasanya aku bisa sebegini rajin bangun pagi. Bangun sebelum adzan shubuh terdengar. Rekor!

Kamar hotel tempat aku menginap sungguh membuatku tidak nyaman. Bukan karena kasurnya. Atau karena kamar mandinya tidak terdapat fasilitas bath-up. Adalah pendingin ruangan di kamar ini yang amat sangat membuatku jengkel. Pengatur suhunya tidak konsisten dengan angka yang tertulis di remote. Ini salah. Sangat salah. Bagaimana mungkin ketika aku mengatur agar suhu kamar berada di angka 28 tapi nyatanya malah ada di angka 18. Aku tahu ketika melihat dan mencocokkan angka tersebut di display telepon genggam milik papa. Aku memang tidak suka menggunakan pendingin ruangan. Di rumahku, cuma kamarku sendiri yang tak tersentuh peradaban teknologi satu itu. Aku tetap setiap kepada kipas angin. Bukan karena aku katrok atau ndeso, tapi memang karena aku tidak kuat dingin.

Tampaknya tidak ada yang kurang dibawaan yang aku bawa. Semua sudah lengkap. Koper kainku yang besar aku isi dengan baju, kaos, celana, sarung, sajadah dan jaket. Sementara tas tangan sudah aku jejali dengan peralatan mandi : 4 batang sabun mandi, 1 pak sikat gigi (isi 5 buah) ukuran medium, 2 pak odol ukuran jumbo dan 2 botol shampo. Juga ada bedak ketiak penghilang bau badan BB Harum Sari, 1 kotak. Dan terakhir ada handuk kesayanganku. Handuk tebal dan besar berwarna biru tua. Mama sempat menawarkan agar handuk itu ditinggal saja di rumah, sebagai ganti aku dibelikan handuk baru. Aku menolaknya. Bagiku, handuk adalah aset penting dan sangat pribadi. Tidak dapat tergantikan kecuali ketika handuk itu sudah memasuki masa uzur : sobek dan berlubang. Lagipula, handuk itu pemberian Ibu (nenek) saat aku ulang tahun ke-10. Dan aku menganggap bahwa itu adalah sangat spesial. Sementara tas punggungku didapuk mewadahi buku tulis serta buku panduan sekolahku yang baru.

Ya, aku akan memulai jenjang pendidikan terusan. Sejak kelas 4 SD aku sudah bisa berangan-angan tentang bagaimana nuansa akademik di tempat yang telah aku tentukan ini. Agak random memang, karena pilihanku jatuh saat aku mengikuti kegiatan safari ramadhan di Semarang. Waktu itu liburan caturwulan, mama dan papa memberikanku pilihan untuk mengisi liburanku, pulang ke Surabaya dan menghabiskan waktu bersama ibu atau berkutat dengan rancangan kegiatan islami yang dikemas dalam paket safari ramadhan. Aku bimbang. Aku galau. Sebenarnya pulang ke Surabaya jelas lebih menarik perhatianku. Tapi aku juga sedikit penasaran dengan salah satu penawaran yang diberikan dalam paket safari ramadhan itu : rihlah pesantren. Bayanganku tentang kata rihlah adalah sama seperti arena bermain yang saat ini dikenal dengan waterboom atau waterpark. Agak ndeso ya bayanganku satu ini. Karena jelas beda makna. Maklum, yang aku pahami kata berawalan ri- adalah risoles. Selain itu, meneketehe deh.

Jalanan kota Solo masih terasa lenggang pagi ini. Dari tempatku menginap di Hotel Asia, kutelusuri jalanan Monginsidi hingga Slamet Riyadi dengan kagum. Kota ini seperti kota tak berpolusi. Udaranya sejuk. Semilir angin yang menerpa wajahku juga terasa sejuk. Aku lihat Matahari Diamond disisi kanan jendela mobilku. Paling tidak kota ini masih bisa mengikuti perkembangan fashion seperti kota-kota besar lain. Bunyi derum mesin berat terdengar di belakang. Seketika aku menoleh, wujud itu lama sekali tak singgah dimataku, sosok tinggi dan kotak yang sungguh klasik : bus tingkat. Ya, begitu kagum aku saat mengetahui alat transportasi rakyat itu masih saja eksis, meski hanya di kota kecil seperti Solo ini. Dan aku masih sangat terkagum-kagum ketika kendaraan kotak besi itu melewati samping mobilku. Gagah dan kuno.

Slamet Riyadi terasa begitu panjang. Jalan utama Solo ini aku lewati dengan perlahan. Aku yakin papa juga menikmati perjalanan ini. Sekaligus menikmati detik-detik perpisahan denganku nanti. Radio mobil mati. Suasanan hening. Hanya terusik dengan beberapa selingan suara motor dan kendaraan lain yang melintas disekitar mobilku. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa lampu bangjo di depan adalah batas akhir, menuju belokan ke arah rumahku menuntut ilmu.



*bersambung*

Minggu, 11 Maret 2012

Permulaan Yang Sulit

: El's Coffee Shop and Bookstore
: Mall Solo Paragon


Baru sekitar 1 jam yang lalu aku sentuh novel 'Negeri 5 Menara' karya Ahmad Fuadi. Detik ini, saat aku mengetikkan huruf demi huruf di tulisan ini, aku mulai terjebak dalam satu pertanyaan yang amat sangat menjelimetkan (membingungkan) : Harus bagaimana aku mengawali perjalanan kisah Assalaam?

Ditemani coklat panas cair yang benar-benar panas, aku sengaja membaca novel itu dari bagian paling belakang. Dimana ada berbagai macam komentar pujian yang dituliskan oleh pribadi-pribadi terkenal. Lalu mulai masuk ke halaman dimana sang penulis diperkenalkan secara detail, mulai dari awal pendidikan, jenjang karir dan segerbong prestasi yang bisa bikin Syahrini mengucapkan kata "Sesuatu"nya itu. Nah, berhenti sejenak di halaman ini saja sudah bikin aku pusiang tujuah kaliliang. Dibandingkan dengan Ahmad Fuadi yang selalu cari gratisan dalam menempuh pendidikannya hingga ke luar negeri sana, aku dan kawanku smemang jauh  terjerembab di dasar jurang. Matilah ini kalau memang nantinya akan terbit novel tentang Assalaam, Mau ditulis apa prestasiku dan satu kawanku itu? Ah, lam madza-madza kholas masduk awalan hadza. Apes..


*garuk-garuk pangkal paha...
*memandang poster cherrybelle..


Sudahlah, untuk masalah prestasi dan jenjang pendidikan yang wah itu aku rasa bisa diakali dengan sedikit permainan kata. Akhirnya aku lanjutkan membaca, kali ini aku mulai dari bagian depan. Kata pengantarnya ok. Daftar isinya ok. Cerita pertama... Cerita kedua... Cerita ketiga... Keempat... Kelima... Dan aku tutup novel setebal 423 halaman itu. Aku tersandar di sofa. Aku katupkan kedua tanganku diwajahku. Aku hembuskan nafas pelan dan datar. Aku tarik rambutku kebelakang. Sedikit aku seruput coklat panasku. Dan aku bertambah pusing. Apa yang sudah ada dalam benakku tentang kerangka cerita awal-tengah-akhir mendadak hilang. Semuanya diluar perkiraanku. Aku sama sekali ga menyangka bahwa kehidupan pondok itu selalu sama di awal. Aku kira kisah perjalananku di Assalaam di tahun pertama berbeda jauh dengan kisah tahun pertama Ahmad Fuadi di Gontor. Kenyataannya : dari A sampai Z semua sama dan hampir mirip!

Ini yang bikin aku bingung. Kehampir miripan ini jelas tidak menguntungkan dalam rencana penulisan cerita Assalaam ini. Pasti nanti banyak komentar miring dan singkat namun berat. Entah itu dikira meniru alur dan kerangka, entah itu dinilai tidak kreatif atau bahkan dipandang sebagai sensasi belaka. Apes..


*ambil hape...
*liat foto-foto anita chibi...


Baiklah, mungkin ini namananya tantangan. Aku dan kawanku dipaksa untuk benar-benar menyajikan nuansa yang Assalaam banget di setiap cerita yang kita publish. Sedikit berat. Karena dari segi nuansa dan emosi setting pun bisa dipastikan memang mirip. Tapi hati telah bertekad, telunjuk terlanjur gatal menuliskan kisah Assalaam. Jadi, aku dan kawanku ga boleh mundur. Setidaknya harus dengan mencoba terlebih dahulu.



                                        "Do'akan Kami Yaaa...!!!"

Kamis, 08 Maret 2012

Latah : Negeri 5 Menara!

Baru kali ini aku latah. Ya, latah ini baru. Semua gara-gara film yang aku lihat di bioskop bersama keluarga : Negeri 5 Menara.

Sebelum lihat film ini pun aku sudah latah duluan. Bersama seorang kawan, aku berceloteh tentang serunya jika pondokku (yang tentunya memiliki jutaan cerita menarik) juga diabadikan melalui rangkuman yang dikemas dalam satu buku. Terdengar seperti celotehan angin lalu memang. Tapi aku sudah ditakdirkan menjadi pribadi yang suka makan angin lalu. Aku suka beberapa hal yang orang lain anggap tidak penting dan tidak bernilai. Entah itu nanti bikin kenyang atau tidak, aku tetap melahapnya. Kalo berhasil ya aku jadi kenyang. Kalo gagal ya sebatas masuk angin saja kan. Jadi bukan resiko besar buatku. Makan saja!


*kedipin mata...


Setelah lihat filmnya, aku makin yakin kalo nantinya aku bakal kenyang. Aku kontak kawanku yang waktu itu berceloteh ria denganku di status facebook. Kita kembai bergumul dengan ide yang wah. Aku mulai dengan judul dan kerangka cerita yang akan kita tulis. Sambutan dia cukup membuatku semakin bergairah. Aku mulai kepanasan. Detak jantungku menggebu layaknya orang yang dimabuk asmara. Keringatku mengucur. Dan aku mencapai klimaks dengan kesimpulan yang sederhana : dimulai dengan menulisnya di blog.


*nyengir kuda...


Dan selanjutnya adalah mulai fokus mempertahankan niat untuk kenyang. Sehingga angin lalu itu tak hanya berupa kentut yang tak berwujud. Nikmati kisah seru pondokku, segera!